BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Tujuan Pemasaran adalah untuk memenuhi dan memberikan
kepuasan kepda kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku Konsumen adalah study
tentang bagaimana individu, kelompok dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, membuat barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memberikan
kepuasan kepada keinginan dan kebutuhan mereka. Memberikan kepuasan kepada
konsumen memberikan clues untuk memperbaiki atau memperkenalkan produk atau
jasa, menentukan harga, menetapkan jalur distribusi, merancang pesan, dan
mengembangkan aktivitas pemasaran lainnya. Para marketer selalu mencari
tren-tren yang muncul yang memberikan peluang-peluang pemasaran baru.
1.2.
Rumusan
Masalah
1. Apakah yang
dimaksud dengan pasar konsumen?
2. Apa sajakah
model perilaku konsumen individu?
3. Sebutkan
factor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen individu
4. Bagaimana
proses-proses keputusan pembeli individu?
1.3.
Tujuan
1. Mendefinisikan pasar konsumer dan
mampu membuat model sederhana mengenai perilaku (konsumer) pembeli.
2. Mengenal empat faktor penting/pokok
yang mempengaruhi perilaku konsumer pembeli.
3. Mendata dan memahami tipe-tipe
perilaku penting keputusan pembelian dan tahap-tahap dalam proses keputusan
pembeli.
4. Menjelaskan proses-proses adopsi dan
diffusi untuk produk-produk baru.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pasar Konsumen
Pasar
atau konsumen dapat dibedakan menjadi dua golongan, yakni konsumen akhir (pasar
konsumen) dan pasar bisnis (pasar industri). Dimana pasar konsumen adalah
sekelompok pembeli yang membeli barang-barang untuk dikonsumsi dan bukannya
untuk diproses lebih lanjut. Sedangkan pasar bisnis adalah pasar yang terdiri
dari individu-individu atau organisasi yang membeli barang untuk diproses lagi
menjadi barang lain dan kemudian dijual. Berdasarkan pengertian tersebut,
sebagai contoh maka petani digolongkan kedalam pasar bisnis, sebab mereka
membeli barang digunakan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang-barang
hasil pertanian.
2.2.
Model – Model Perilaku Konsumen
Umumnya perusahaan-perusahaan besar
meneliti keputusan-keputusan pembelian konsumer dengan sangat rinci untuk
menjawab pertanyaan mengenai apa
yang konsumer beli, dimana
mereka membeli, bagaimana dan
berapa banyak mereka membeli,
kapan mereka membeli, dan mengapa
mereka membeli.
Marketer dapat mempelajari pembelian
ini, tapi mempelajari tentang “The whys of consumer buyer behavior is not
so easy”—karena jawaban dari pertanyaaan tersebut seringkali terpendam (terkunci) di dalam benak konsumer.
Memahami alam pikiran konsumer (the black box) bukanlah pekerjaan yang
mudah. Seringkali konsumer sendiri tidak mengetahui dengan tepat apa yang
mempengaruhi mengapa mereka membeli.
Sembilan puluh lima persen dari pemikiran, emosi dan pengetahuan (yang
mendorong untuk melakukan pembelian) terjadi dalam pikiran bawah sadar, yaitu
tanpa sadar, ini “berdasarkan temuan dari pakar perilaku konsumer.”
Pertanyaan pokok untuk marketer
adalah: Bagaimana konsumer merespon terhadap beragam upaya marketing yang
dilakukan perusahaan? Penjelasannya lihat pada Figure 5.1. Figure ini
memperlihatkan bahwa marketing dan stimulan lainnya memasuki “the
black box” konsumer dan menyebabkan respon-respon tertentu.
Marketing
stimuli terdiri dari: product, price, place, and
promotion
Model of buyer behavior
|
|
|
![]() |
![]() |
Stimulus lainnya termasuk kekuatan dan
peristiwa-peristiwa penting di seputar (lingkungan) pembeli: ekonomi,
teknologi, politik dan kultural. Semua input-input ini mempengaruhi (masuk)
“the black box” pembeli, yang akhirnya berubah menjadi serangkaian
respon-respon pembeli yang dapat diamati misalnya: pemilihan produk, pemilihan
brand, pemilihan dealer, waktu pembelian, dan jumlah pembelian.
2.2.1 Factor-Faktor
Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Individu
Pembelian konsumer dipengaruhi sangat
kuat oleh karakteristik-karakteristik kultural, sosial, pribadi, dan
psychologik, seperti yang terlihat pada Figure 5.2. Umumnya, marketer tidak
dapat mengendalikan faktor-faktor tersebut di atas, tapi mereka harus
memperhatikan hal-hal tersebut.
1. Faktor Kultural / Budaya
Faktor-faktor
kultural/budaya memberikan pengaruh luas dan dalam terhadap perilaku konsumer.
Marketer perlu memahami peran yang diakibatkan oleh kultur, subkultur, dan
kelas sosial pembeli. Faktor budaya mempunyai pengaruh yang luas dan
mendalam pada konsumen, antara lain :
a.
Budaya ( Culture)
Adalah
penyebab keinginan dan perilaku seseorang paling dasar. Setiap kelompok
mempunyai budaya dan pengaruh budaya pada perilaku pembelian bias sangant
bervariasi dari satu negara ke negara lain. Kegagalan menyesuaikan diri dengan
perbedaan ini menghasilkan pemasaran yang tidak efektif atau kesalahan yang
memalukan. Pemasar selalu berusaha menemukan perubahan budaya untuk menemukan
produk baru yang mungkin di inginkan orang.
b.
Subbudaya
(Subculture)
Masing-masing
budaya mengandung subbudaya (subculture) yang lebih kecil, yaitu meliputi kebangsaan,
kelompok ras, agama, dan daerah geografis. Contoh kelompok subbudaya :
Ø
Kelompok Hispanik
Kelompok Hispanik cenderung membeli produk yang lebih
bermerek dan berkualitas tinggi, produk generic tidak laku dijual untuk
kelompok ini. Mereka sangat setia pada merek dan mereka menyukai perusahaan
yang memperlihatkan minat khusus kepada mereka.
Ø Afrika – Amerika
Jika
seandainya populasi warga African-American sebanyak 39 juta jiwa, menjadi
sebuah negara terpisah, kekuatan pembeliannya senilai $.630 milyar setiap
tahun, akan masuk rangking dalam 15 top di dunia. Populasi kulit hitam di U.S
tumbuh dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Subkultur ini lebih sadar harga
daripada segmen-segmen lain, orang-orang kulit hitam (“the black”) juga
termotivasi kuat oleh kualitas dan seleksi.
Brand-brand
adalah sesuatu yang penting, oleh karenanya shopping – konsumer kulit hitam
menikmati shopping melebihi kelompok-kelompok lain, bahkan untuk hal-hal biasa
seperti bahan makanan. Konsumer kulit hitam juga paling peduli fashion
dibanding etnik lainnya. Pada tahun-tahun terakhir ini, banyak perusahaan yang
mengembangkan produk-produk dan jasa-jasa, kemasan, dan lainnya untuk memenuhi
kebutuhan warga Africa-American.
Ø
Konsumen Asia – Amerika
Asian-American
merupakan segmen demographic yang tumbuh tercepat dan paling makmur di U.S.
Sekarang ini berjumlah lebih dari 12 juta jiwa, dengan pendapatan yang
dibelanjakan mencapai $ 296 milyar per tahun. Chinese-Americans kelompok
terbesar, diikuti Filipinos, Japanese- Americans, Asian-Indians, dan
Korean-Americans. Populasi Asian- Americans di U.S diperkirakan melebihi 2 kali
lipat pada tahun 2050, bila hal tersebut terjadi kurang lebih 9 % dari populasi
U.S. Konsumer Asian kemungkinan menjadi segmen paling sadar teknologi – lebih
dari satu per tiga melakukan pembelian melalui internet tahun lalu. Sebagai
suatu komunitas, konsumer Asian belanjanya cukup sering dan yang paling peduli
brand dibandingkan dari semua komunitas etnik. Menariknya lagi, mereka juga
yang paling kurang loyal terhadap brand – mereka lebih sering berganti brand
dibandingkan kelompok lain.
Karena
daya beli yang tumbuh dengan cepat dari segmen ini, banyak perusahaan sekarang
ini mentargetkan pasar Asian-Americans. Misalnya, Wal-Mart. Sekarang ini di salah satu storenya di Seatle, dimana
populasi Asian-American mewakili lebih dari 13 % populasi, Wal-Mart menyediakan
sejumlah besar CD dan video terpilih dari artis-artis Asia. Asian menyukai
produk-produk kesehatan dan kecantikan, video-video pembelajaran untuk
anak-anak yang manampilkan berbagai bahasa.
Ø
Konsumen Dewasa
Konsumen dewasa mempunyai keadaan keuangan yang lebih
baik daripada kelompok konsumen muda. Karena konsumen dewasa mempunyai lebih
banyak waktu dan uang, mereka menjadi pasar yang ideal bagi wisata eksotik,
restoran, produk hiburan, rumah berteknologi tinggi, barang dan jasa untuk
saat-saat santai, perabot dan mode pakaian desainer, jasa keuangan dan jasa
perawatan kesehatan.
Keinginan
mereka untuk kelihatan muda seperti perasaan mereka, juga membuat konsumer ini
calon-calon (pembeli) yang bagus untuk produk-produk kosmetik dan perawatan
pribadi, makanan sehat, produk-produk kebugaran, dan barang-barang lainnya yang
mampu melawan pengaruh penuaan (combat
the effects of aging).
Strategi
terbaik ialah yang mendukung semangat mereka, yang hidup secara multidimensi.
2. Faktor Sosial
Perilaku
konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti :
a. Kelompok (Group)
Grup
atau kelompok yaitu bisa terdiri dari dua orang atau lebih yang berinterkasi
untuk mencapai tujuan individu atau tujuan-tujuan bersama.
Opinion leader ialah seseorang di dalam kelompok
referensi yang karena keterampilan, pengetahuan, kepribadian, atau sifat-sifat
khusus lainnya bisa mempengaruhi yang lainnya.
Banyak
marketer berupaya untuk mengenali atau mengetahui “the opinion leaders”
untuk kepentingan produk dan berusaha melakukan pemasaran langsung/direct
marketing kepada mereka. Marketer menggunakan “buzz marketing” dengan atau
bahkan menciptakan “opinion leaders” untuk menyebarkan dari mulut ke mulut
(spread the word) mengenai brand-brand mereka.
b. Keluarga
(Family)
Anggota keluarga bisa sangat mempengaruhi perilaku
pembeli. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
dalam masyarakat dan telah diteliti secara ekstensif. Suami, istri dan
anak-anak mempunyai peran dan pengaruh sendiri-sendiri dalam pembelian barang
dan jasa yang berbeda.
Keterlibatan
suami isteri sangat beragam dalam kategori produk dan tahap-tahap dalam proses
pembelian. Peran-peran pembelian (buying roles) berubah dengan
berkembangnya gaya-hidup konsumer. Di U.S, isteri secara tradisional menjadi
agen pembeli utama untuk keluarga dalam hal produk-produk makanan, rumah
tangga, dan pakaian. Tapi dengan 70 % wanita bekerja di luar rumah dan
kesediaan suami untuk melakukan peran pembelian lebih banyak untuk kebutuhan
keluarga, akibatnya terjadi perubahan. Dimana wanita hampir 40 % mengendarai sendiri mobilnya,
sekarang mempengaruhi lebih dari 80 % keputusan-keputusan pembelian mobil. Pria
diperkirakan sekitar 40 % dalam hal belanja bahan makanan.
Secara keseluruhan, sekarang ini
wanita hampir 85 % yang membuat keputusan-keputusan pembelian, dan
membelanjakan $ 6 trillion setiap tahun. Perubahan-perubahan ini menyebabkan
marketer yang biasanya menjual produk hanya kepada pria atau hanya kepada
wanita, sekarang ini bisa terjadi sebaliknya.
Anak-anak
juga mungkin mempunyai pengaruh kuat dalam hal keputusan-keputusan pembelian
keluarga. Misalnya, anak seumur 6 tahun mungkin mempengaruhi keputusan membeli
mobil keluarga.
c. Peran dan Status
Yaitu posisi seseorang dalam masing-masing kelompok.
Peran teridiri dar kegiatan yang digarapkan dilakukan seseorang sesuai dengan
orang-orang disekitarnya.
Contoh
berikut menjelaskan beragam peran yang dijalankan seorang Ibu Pekerja. Di
perusahaan, dia menjalankan peran seorang “brand manager”; di keluarga, di
menjalankan peran isteri dan ibu; pada kegiatan-kegiatan olah raga favorit, dia
menjalankan peran sebagai penggemar berat. Sebagai seorang “brand manager”, dia
akan membeli pakaian yang (sesuai) merefleksikan perannya dan statusnya di
perusahaan.
3. Faktor Pribadi
Keputusan-keputusan pembeli
dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, seperti usia dan tahap siklus hidup,
pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, dan kepribadian serta konsep diri.
a.
Usia
dan Tahap Siklus Hidup
Orang
mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang hidup mereka. Pembelian
juga dibentuk oleh siklus hidup keluarga, tahap-tahap yang dilalui keluarga
ketika mereka menjadi matang dengan berjalannya waktu. Pemasar sering
mendefinisikan pasar sasaran merekea dengan tahap siklus hidup keluarga dan
mengembangkan produk dan rencana pemasaran yang sesuai untuk setiap tahap itu.
Marketer
seringkali menetapkan pasar-pasar target mereka dalam hubungan dengan tahap siklus
hidup (life-cycle stage) dan mengembangkan produk-produk dan
rencana-rencana marketing sesuai dengan masing-masing tahapan. Sekarang
marketer melayani sejumlah alternatif tahapan nontradisional seperti: pasangan tanpa nikah, lajang, pasangan tanpa
anak, pasangan sama sex, orang tua tunggal dan lain-lain.
Misalnya,
Sony baru-baru ini merubah pendekatan marketing mereka agar target produk dan
jasa ke konsumen berdasarkan atas tahapan kehidupan konsumen. Tindakan ini
menghasilkan satu unit baru yang disebut “the Consumer Segment Marketing
Division”, yang mengidentifikasi tujuh segmen tahap hidup, termasuk diantaranya
Gen Y (under 25), Profesional Muda/DINKs (double income no kids antara 25 – 34
tahun); Famili (35 – 54 tahun), dan Zoomers (55 tahun ke atas).
b.
Pekerjaan
Pekerjaan
sesorang berpengaruh terhadap barang-barang dan jasa yang dibeli. Pekerja kasar (blue- collar workers)
cenderung membeli pakaian kerja kasar (murah), sedangkan eksekutif membeli
setelan bisnis.
c.
Situs
Ekonomi
Situasi
ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan
produk. Marketer untuk barang-barang yang sensitif terhadap income (income-sensitive
goods) melihat trend dari pendapatan pribadi, tabungan, dan tingkat
bunga. Jika indikator ekonomi mengarah ke resesi, marketer dapat melakukan
langkah-langkah untuk mendisain ulang, reposisi dan penetapan harga ulang untuk
produk-produknya.
Contoh,
Rolex memposisikan jam tangan mewahnya sebagai “a tribute to elegance, and
object of passion, a symbol for all time.”
d.
Gaya
Hidup
Gaya
hidup ialah pola hidup seseorang yang terekspresikan dalam psychographic:
kegiatan-kegiatan, minat dan pikirannya.
Gaya
hidup melihat sesuatu lebih daripada kelas sosial atau kepribadiaan seseorang.
Gaya hidup menampilkan pola keseluruhan seseorang dalam hal tindakan dan
interaksinya di dunianya.
Dari
hasil riset telah dikembangkan klasifikasi gaya hidup yang paling luas
digunakan yaitu The SRI Consulting’s Values and Lifestyles (VALS) Typology. VALS
mengklasifikasikan orang-orang sesuai dengan bagaimana mereka menggunakan waktu
dan uang mereka. VALS membagi konsumer menjadi delapan kelompok berdasarkan
dimensi utama: motivasi primer dan sumberdaya.
Kecenderungan utama dari empat
kelompok dengan sumberdaya besar yaitu:
Ø
Innovators: sukses, canggih, aktif, dan
waspada diri. Kecenderungan pembelian mencerminkan selera seorang ahli untuk
produk-produk berkelas.
Ø
Thinkers: dewasa, puas, nyaman, reflektif.
Menyukai produk yang berdaya tahan lama, fungsional dan bernilai.
Ø
Achievers: sukses berorientasi karir dan
pekerjaan. Menyenangi produk-produk yang bergengsi yang merefleksikan
keberhasilan diri terutama dikalangan rekan-rekannya.
Ø
Experiences: Muda, energik, antusias, impulsif,
dan berjiwa pemberontak. Membelanjakan pendapatannya dalam porsi besar untuk
pakaian, makanan, film dan video. Dll.
Kecenderungan
utama dari ke-empat kelompok berikutnya dengan sumberdaya yang terbatas yaitu:
Ø
Believers: konservatif, konvensional, dan
tradisional. Menyukai produk-produk umum dan brand yang biasa-biasa saja.
Ø
Strivers: tidak pasti, tidak merasa aman,
perlu persetujuan, terbatas. Menyukai produk-produk tiruan (meniru orang kaya).
Ø
Makers: praktis, berupaya sendiri/swadaya,
tradisional, berorientasi keluarga. Menyenangi produk-produk yang praktis dan
fungsional.
Ø
Survivors: orang-orang usia lanjut, pensiunan,
pasif, penuh perhatian, terbatas sumber daya. Kelompok ini merupakan konsumen
yang teliti dan setia pada brand-brand tertentu yang mereka sukai.
e.
Kepribadian
dan Konsep Diri
Kepribadian (personality) mengacu pada karakteristik
psikologi unik yang menyebabkan respons yang relative konsisten dan tahan lama
terhadap lingkungan orang itu sendiri. Kepribadian biasanya digambarkan dalam
karakteristik perilaku seperti kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi,
otonomi, cara mempertahankan dirir, kemampuan beradaptasi dan sikap agresif.
Keperibadian dapat juga digunakan untuk menganalisa perilaku konsumen untuk
produk atau merek tertentu. Kepribadian merek (brand personality) adalah bauran
khusus karakteristik perilaku manusia yang dikaitkan dengan merek tertentu.
Misalnya, marketer minuman kopi
menemukan bahwa peminum berat kopi cenderung tinggi dalam hal sosiabilitasnya.
Karenanya untuk menarik kustomer, Starbucks dan Kedai-kedai kopi lainnya
(coffehouse) menciptakan suasana lingkungan dimana orang-orang bisa rileks dan
bergaul di samping secangkir kopi panas.
Anggapan
bahwa brands juga memiliki personalitas dan bahwa konsumer lebih suka memilih
brand-brand yang personalitasnya cocok dengan yang dimiliki konsumer. A
brand personality adalah bauran sifat-sifat khusus manusia yang mungkin
menghubungkannya dengan suatu brand tertentu.
Seorang peneliti
mengidentifikasi lima sifat personalitas brand :
1. Sincerity (down-to-earth, honest,
wholesome, and cheerful),
2. Excitement (daring, spirited,
imaginative, and up-to-date),
3. Competence (reliable, intelligent, and
successful),
4. Sophistication (upper class and
charming),
5. Ruggedness (outdoorsy and tough).
4. Faktor Psikologi
Pilihan-pilihan seseorang untuk
membeli, juga dipengaruhi oleh faktor psychologis, dalam hal ini ada empat
faktor psychologis utama: motivasi (motivation), persepsi (perception),
pembelajaran (learning), dan keyakinan (beliefs) serta sikap (attitudes).
1.
Motivasi
Kebutuhan menjadi motif ketika kebutuhan itu mencapai
tingkat intensitas yang kuat. Motif (motive) / (dorongan) adalah kebutuhan
dengan tekanan kuat yang mengarahkan seseorang mencari kepuasan
Kebutuhan menjadi motif ketika kebutuhan itu mencapai
tingkat intensitas yang kuat. Motif (motive) / (dorongan) adalah kebutuhan
dengan tekanan kuat yang mengarahkan seseorang mencari kepuasan. Ada dua teori
motivasi manusia, yaitu :
a.
Teori Sigmun Freud yang
mengasumsikan bahwa kebanyakan orang tidak sadar akan kekuatan psikologi sejati
yang membentuk perilaku mereka. Teori ini juga menyatakan bahwa keputusan
pembelian seseorang dipengaruhi oleh motif alam bawah sadar yang bahkan tidak
dipahami sepenuhnya oleh pembeli.
b.
Teori Abraham Maslow berusaha
menjelaskan mengapa orang digerakan oleh kebutuhan tertentu pada saat tertentu
pula. Jawaban Maslow adalah bahwa kebutuhan manusia diatur dalam sebuah
hierarki dari kebutuhan paling mendesak sampai kebutuhan yang tidak mendesak.
Kebutuhan ini meliputi : kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan, kebutuhan
sosial, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.
Maslow’s Hierarchy of
Needs
Persepsi
Persepsi
Persepsi (perception) adalah proses dimana orang
memilih, mengatur dan menginteprestasikan informasi untuk membentuk gambaran
dunia yang berarti. Orang dapat membentuk persepsi yang berbeda dari rangsangan
yang sama karena tiga proses perceptual ( berhubungan dengan rangsangan
sensorik ) yaitu, perhatian
selektif (selective attention),
distorsi selektif (selective distortion),
dan ingatan selektif (selective
retention).
Ø
Selective
attention kecenderungan
orang-orang untuk menyaring sebagian besar informasi yang mereka terima –
berarti bahwa marketing harus bekerja keras khususnya untuk menarik perhatian
konsumen.
Ø
Selective
distortion menjelaskan kecenderungan orang-orang untuk menerjemahkan
informasi dalam cara yang akan mendukung apa-apa yang mereka sudah yakini.
Misalnya, jika anda tidak percaya pada satu perusahaan, anda mungkin tetap
mempertanyakan (kebenaran) dari apa yang dinformasikan perusahaan tersebut,
meskipun informasi ads
perusahaan bicara secara jujur. Untuk
itu marketer harus berusaha memahami pola pikir (mind-sets) konsumer, dan
bagaimana pola pikir tersebut akan mempengaruhi interpretasi terhadap
ads dan informasi penjualan.
Ø
Selective
retention Konsumer mungkin
mengingat hal-hal baik yang ada pada brand-brand yang mereka sukai dan
melupakan hal-hal yang baik dari
brand-brand pesaing. Karena keterbukaan selektif (selective exposure),
distorsi dan retensi selektif, maka marketer harus bekerja keras dalam
menyampaikan (to deliver) pesan-pesan mereka. Fakta ini menjelaskan mengapa
marketer menggunakan begitu banyak drama dan pengulangan dalam pengiriman pesan
ke pasar mereka.
3.
Pembelajaran
Pembelajaran (learning) menggambarkan perubahan dalam
perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Pembelajaran terjadi melalui
interaksi dorongan (drives), rangsangan, pertanda, respons dan penguatan. Arti
penting teori pembelajaran yang praktis bagi pemasar adalah bahwa mereka dapat
membangun permintaan untuk sebuah produk melalui pengasosiasikan dalam dorngan
yang kuat, menggunakan pertanda motivasi dan memberikan penguatan yang positif.
Sebagai
contoh, dorongan seseorang untuk mengaktualisasikan diri yang mungkin
memotivasinya untuk melakukan pembelian kamera digital. Respon konsumer untuk
ide membeli sebuah kamera dikondisikan oleh tanda-tanda sekitar berupa stimuli
yang menentukan kapan, dimana, dan bagaimana seseorang merespon. Misalnya,
seseorang melihat beberapa brand kamera yang dipamerkan sebuah toko,
mendengarkan tawaran ada diskon khusus, atau diskusi dengan teman. Kesemuanya
ini adalah isyarat atau tanda yang mempengaruhi konsumer untuk melakukan
pembelian suatu produk.
4. Keyakinan dan
Sikap
Beliefs/keyakinan-keyakinan
adalah pemikiran deskriptif yang dipertahankan seseorang atau yang dimiliki
seseorang mengenai suatu hal. Keyakinan dapat berasal dari pengetahuan, opini,
atau kepercayaan, dan mungkin saja mebawa an
emotional charge.
Marketer
berkepentingan dengan hal ini karena orang-orang memilih produk atau jasa
tertentu dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinan yang membuat citra produk dan
brand mempengaruhi perilaku pembelian.
Jika
keyakinan-keyakinan tersebut salah sehingga menghambat pembelian, marketer
harus berupaya melakukan kampanye untuk mengkoreksinya.
Orang-orang
mempunyai attitudes/sikap/pendirian berkaitan dengan agama, politik, pakaian,
musik, makanan dan lain-lain. Attitudes menjelaskan evaluasi-evaluasi,
perasaan-perasaan, dan kecenderungan-kecenderungan seseorang yang relatif
konsisten terhadap suatu objek atau gagasan. Attitudes menempatkan orang-orang
ke dalam suatu kerangka pemikiran mengenai hal-hal yang disukai atau tidak
disukai, mendekati atau menjauhi. Attitudes sulit berubah. Attitudes seseorang
cocok untuk suatu pola dan untuk merubahnya memerlukan penyesuaian-penyesuaian
yang sulit dalam banyak hal.
Oleh karenanya perusahaan sebaiknya
selalu berupaya untuk mencocokkan produk-produk-nya dengan attitudes yang ada
(pada kustomer) daripada mencoba untuk merubah attitudes sesorang (kustomer). Tentu saja, ada kekecualian yaitu bila
biaya-biaya untuk mencoba merubah attitudes dapat memberikan hasil/imbalan yang
sepadan.
2.2.2. JENIS-JENIS PERILAKU
KEPUTUSAN PEMBELI
1. Perilaku
Pembelian Kompleks
Consumer melakukan “complex
buying behavior” ketika mereka sangat terlibat dalam suatu pembelian
dan merasakan perbedaan-perbedaan penting di antara brands. Biasanya konsumen
akan sangat terlibat jika produk tersebut mahal, berisiko, jarang dibeli, dan
sangat bersifat pribadi, khususnya ketika konsumer telah banyak mempelajari
mengenai kategori produk.
2. Perilaku Pembelian
Pengurangan Disonansi
Hal ini terjadi bila konsumer sangat
terlibat sewaktu akan membeli suatu produk yang: mahal, jarang, pembelian
beresiko, tapi menemukan sedikit perbedaan di antara brands.
3. Perilaku Pembelian
Kebiasaan
Hal ini terjadi pada kondisi-kondisi
dimana keterlibatan konsumer rendah dan perbedaan brand kurang begitu penting.
Untuk kasus ini, konsumer tidak perlu
melakukan menyelidikan mendalam untuk mendapatkan informasi tentang brand,
sifat-sifat, dan membuat keputusan-keputusan untuk memilih brand mana yanga
dibeli. Malahan mereka menerima informasi secara pasif ketika mereka melihat ads
di TV atau membacanya di majalah. Pengulangan ads menghasilkan kedekatan brand dari pada keyakinan terhadap
brand. Sehingga proses pembelian yang melibatkan keyakinan brand dibentuk oleh
pembelajaran pasif, kemudian diikuti perilaku pembelian yang mungkin ada atau
tanpa evaluasi.
4. Perilaku Pembelian
Mencari Keragaman
Konsumer melakukan hal ini dalam
situasi yang dicirikan keterlibatan rendah tapi persepsi perbedaan brand yang
signifikan atau tinggi. Dalam hal ini, konsumer sering melakukan pergantian
brand.
Pemimpin pasar akan mendorong “habitual
buying behavior” dengan mendominasi ruang pamer, menjaga rak-rak
penjualan dengan stok yang selalu penuh, dan melakukan ads berulang-ulang untuk
mengingatkan.
Perusahaan penantang akan berusaha
memacu agar konsumen mencari variasi atau selingan dengan produk baru atau yang
berbeda dengan menawarkan harga-harga lebih murah, discount khusus, kupon,
sample gratis, dan ads yang menjelaskan alasan-alasan untuk mencoba
sesuatu yang baru.
2.2.3. Proses Keputusan Pembeli
1.
Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)
Proses membeli dimulai dengan mengenali kebutuhan/need recognition atau pengenalan: pembeli menetapkan
suatu kebutuhan, kemudian kebutuhan tersebut dipicu oleh rangsangan internal
sebagai bagian dari kebutuhan normal seseorang misalnya -- hunger, thirst, sex
-- timbul pada tingkat yang cukup tinggi sehingga berubah menjadi suatu
dorongan. Pendorong atau penggerak satu kebutuhan dapat juga dipicu oleh
rangsangan eksternal.
2.
Pencarian Informasi (Information Search)
Tahapan ini, konsumer tergerak untuk
menyelidiki lebih banyak dengan mencari
informasi. Konsumer mungkin sangat tertarik atau mungkin mencari
informasi dengan aktif. Konsumer yang tertarik biasanya akan melakukan
pencarian informasi lebih lanjut. Jika dorongan konsumen kuat dan produk
tersebut memuaskan, dan ada didekat mereka (near
at hand). Maka konsumer akan melakukan pembelian. Jika tidak konsumer dapat
menyimpan kebutuhan akan produk tersebut dalam memori atau melakukan pencarian
informasi lebih lanjut untuk kebutuhan produk tersebut.
3.
Evaluasi Alternatif (Evaluation of alternatives)
Bagaimana konsumer melakukan pemilihan
diantara alternatif brands? Marketer perlu unutk mengetahui “alternatif
evaluation”—yaitu bagaimana konsumer
memproses informasi untuk sampai pada pilihan-pilihan brand.
Masing-masing konsumer untuk sampai
pada attitude yang mengarah ke brands akan berbeda, dalam hal beberapa prosedur
evaluasi. Bagaimana melakukan evaluasi tergantung pada konsumer individual dan
situasi pembelian tertentu.
Di
beberapa kasus, konsumer menggunakan kalkulasi dengan cermat dan berpikir
secara logik. Diwaktu yang lain, konsumer yang sama melakukan sedikit atau
tanpa evaluasi; bahkan mereka membeli karena spontan dan tergantung pada
intuisi. Oleh karena itu, tergantung bagaimana mereka membuat
keputusan-keputusan dalam melakukan pembelian, terkadang mereka meminta masukan
teman atau penasihat dari tenaga penjual atau sumber-sumber lain.
Dalam hal ini marketer sebaiknya
mempelajari bagaimana pembeli mengevaluasi alternatif brand. Jika proses
evaluasi yang terjadi dapat diketahui, marketer dapat melakukan langkah-langkah
untuk mengetahui keputusan pembeli.
4.
Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
Biasanya “purchase decision”
konsumen akan membeli brand yang paling disukai meskipun ada dua faktor yang
muncul dalam the purchase intention dan the purchase decision.
Faktor pertama, ialah the
attitudes of others. Jika seseorang yang anda anggap penting
mempengaruhi atau menyarankan bahwa anda sebaiknya membeli mobil dengan harga
lebih murah, maka peluang-peluang anda untuk membeli mobil yang lebih mahal
kemungkinan akan berkurang.
Faktor kedua ialah unexpected situational factors. Konsumer menetapkan purchase intention
berdasarkan faktor-faktor seperti pendapatan, harga, dan manfat-manfaat produk
yang diharapkan. Akan tetapi, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan mungkin
merubah the purchase intention tersebut.
5.
Perilaku Pasca Pembelian (Postpurchase Behavior)
Setelah
membeli produk, konsumen akan merasa puas / tidak puas dan terlibat dalam
perilaku pasca pembelian (postpurchase behavior) yang harus diperhatikan oleh
pemasar. Hampir semua pembelian besar menghasilkan disonansi kognitif
(cognitive dissonance) / ketidaknyamanan akibat konflik pascapembelian. Kepuasan
pelanggan begitu penting karena kepuasan pelanggan merupakan kunci untuk
membangun hubungan yang menguntungkan dengan konsumen untuk mempertahankan dan
menumbuhkan konsumen serta mengumpulkan nilai seumur hidup pelanggan. Dengan
mempelajari keseluruhan keputusan pembeli, pemasar mungkin dapat menemukan cara
untuk membantu konsumen melalui keprihatinannya.
2.2.4. PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN
UNTUK PRODUK BARU
Produk baru
(new product) adalah barang, jasa atau ide yang dianggap baru oleh sejumlah
pelanggan potensial. Proses adopsi (adoption process) yaitu proses mental yang
harus dilalui seseorang untuk mempelajari sebuah inovasi untuk pertama kalinya
sampai proses akhir. Adopsi adalah keputusan seseorang untuk menjadi pengguna
tetap sebuah produk.
Tahap – Tahap dalam proses adopsi :
1. Kesadaran, konsumen menyadari adanya produk baru, tetapi
kekurangan informasi tentang produk.
2. Minat, konsumen mencari informasi tentang produk
baru.
3. Evaluasi,
konsumen mempertimbangkan
apakah mencoba produk baru tersebut adalah tindakan yang masuk akal.
4. Mencoba,
konsumen mencoba produk baru
dalam skala kecil untuk meningkatkan estimasinya tentang nilai produk itu.
5. Adopsi,
konsumen memutuskan untuk
memakai produk baru itu secara penuh dan teratur.
2.2.5. Karakteristik Yang Mempengaruhi Produk Pada Tingkat
Adopsi
Setiap orang sangat berbeda dalam
kesiapannya untuk mencoba produk-produk baru. Ditiap jenis produk, ada “consumption
pioneers” dan “early adoption.”. Individu-individu
lainnya menerima produk-produk baru lebih lambat. Orang-orang dapat
diklasifikasikan ke kategori-kategori adopter (the adopter categories), seperti
yang diperlihatkan di Figure 5.8. Dimulai dari yang lambat (a
slow start), kemudian sejumlah besar (meningkat) orang-orang yang
mengadopsi produk baru. Jumlah adopter mencapai titik tertinggi dan kemudian
turun hingga hanya sedikit yang tetap menjadi nonadopters. Inovator ditetapkan
sebesar 2,5%, pembeli atau pengguna
pertama yang mengadopsi suatu ide baru (yaitu kelompok yang melebihi 2
standard deviasi dari rata-rata waktu adopsi).

The
early adopters
adalah yang berikutnya sebesar 13,5% (terletak antara satu dan dua standard
deviasi); dan seterusnya.
Setiap kelompok dari ke
lima tipe adaptor memiliki perbedaan nilai-nilai:
Ø Inovator adalah orang-orang yang berani dan
suka mengambil resiko – mereka mencoba ide – ide baru dengan beberapa resiko.
Ø Pengguna Awal (Early adaptors) adalah orang-orang yang perlu
dibimbing dengan penuh perhatian/hormat – mereka adalah oponion leaders di dalam
masyarakatnya dan menerima ide-ide baru lebih awal tapi berhati-hati.
Ø Mayoritas Awal (The early majority) adalah orang-orang yang tidak
tergesa-gesa – umumnya orang-orang peragu/bersikap ragu-ragu – mereka menerima
suatu inovasi hanya setelah mayoritas orang-orang telah mencoba atau memiliki.
Ø Mayoritas
Akhir (laggards)
adalah orang-orang yang terpaku pada tradisi – mereka adalah orang-orang yang
mencurigai perubahan-perubahan dan menerima inovasi hanya ketika hal-hal
tersebut telah menjadi sesuatu yang mentradisi (it has become something of a
tradition it self).
Klasifikasi adopter ini menyarankan
bahwa suatu perusahaan yang menghasilkan produk inovatif (an innovating firm)
sebaiknya melakukan riset karakteristik terhadap inovator dan early
adaptors, dan sebaiknya melakukan “direct marketing” kepada
kustomer-kustomer ini.
Pada
umumnya inovator cenderung adalah orang-orang yang relatif muda, berpendidikan,
dan berpendapatan lebih tinggi daripada “later
adopters and nonadopters”.
Mereka lebih mau menerima hal-hal yang kurang dikenal mengandalkan lebih kepada
nilai-nilai dan pendapat mereka sendiri, dan lebih bersedia menanggung resiko.
Mereka ini kurang loyal terhadap brand dan lebih menyukai mencari keuntungan
dari promosi-promosi khusus seperti discount, kupon, dan sampel/contoh produk.
2.2.6 Perilaku Konsumen Internasional
Memahami perilaku konsumer cukup sulit
bagi marketing perusahaan dalam batas-batas satu negara. Apalagi untuk
perusahaan yang beroperasi dibanyak negara, pemahaman dan pelayanan
kebutuhan-kebutuhan konsumer menjadi hal yang menghawatirkan dan menakutkan. Meskipun
konsumer di negara-negara berbeda mempunyai beberapa hal umum yang sama, tapi
nilai-nilai mereka, sikap-sikap, dan perilaku-perilaku sering kali sangat
berbeda.
Marketer internasional harus memahami
perbedaaan ini, dan bisa menyesuaikan produk-produk dan program-program
marketingnya. Terkadang perbedaan-perbedaan tersebut begitu tampak/nyata.
Misalnya : di U.S. dimana umumnya orang-orang makan sereal secara teratur untuk
sarapan pagi. Kellogg memfokuskan marketingnya dengan membujuk konsumen memilih
satu brand Kellogg daripada brand kompetitor. Di Prancis, dimana umumnya
orang-orang lebih senang croissants dan kopi atau tidak sarapan sama sekali.
Iklan Kellogg benar-benar berupaya meyakinkan orang-orang bahwa mereka
sebaiknya makan sereal untuk sarapan pagi. Kemasan termasuk instruksi cara-cara
bagaimana menyiapkan sereal. Di India, dimana banyak konsumen makan berat,
makanan pagi yang digoreng (fried breakfasts) dan banyak konsumer melakukan ini
sekaligus dengan makan siang; ads Kellogg berusaha meyakinkan
pembeli untuk mengganti ke yang lebih ringan, lebih bergizi untuk diet makan
pagi.
Marketer harus memutuskan sampai
tingkat mana mereka akan menerima produk-produk dan program merketing mereka
untuk memenuhi keunikan budaya dan kebutuhan konsumer diberagam pasar. Disatu
pihak, mereka ingin menstandarisasi penawaran agar operasi-operasi
disederhanakan dan mencari keuntungan dari biaya yang telah dikeluarkan. Di
pihak lain, penyesuaian usaha marketing di tiap negara menyebabkan
produk-produk dan program-program dapat diterima lebih baik dalam memuaskan
kebutuhan konsumer lokal. Pertanyaan apakah melakukan adaptasi atau
standarisasi bauran marketing melintasi pasar-pasar internasional menimbulkan
perdebatan yang menarik akhir-akhir ini.
BAB III
KESIMPULAN
Pasar Konsumen
adalah kelompok individual (perorangan maupun rumah tangga) yang membeli dan
mengkonsumsi barang atau jasa untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya,
tidak untuk maksud lain. Model perilaku pasar konsumen digambarkan dalam bentuk
skema stimulus-respons model, yang menjelaskan mengenai karakteristik pembeli
mempengaruhi bagaimana dia mempersepsikan dan bereaksi terhadap rangsangan
serta proses pengambilan keputusan pembelian itu sendiri mempengaruhi perilaku
pembeli.
Adapun
karakterisitik yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu factor budaya, sosial,
pribadi, dan psikologis. Didalam pembelian suatu produk, terdapat suatu proses
pengambilan keputusan yang biasa dihadapi oleh konsumen, meliputi pengenalan
kebutuhan, kebutuhan informasi, evaluasi alternative, pengambilan keputusan,
dan perilaku lanjut.
Kak, pasar konsumen penjualannya selalu berupa makanan minuman atau yg lain juga bisa?
BalasHapus